Pencemaran Nama Baik

Konsumen Dipolisikan Pengembang Pulau Reklamasi

publicanews - berita politik & hukumFelicita Susantio (tengah) bersama kuasa hukumnya Kamillus Elu (kiri) di Mapolda Metro Jaya. (Foto: Publicanews/Putra)
PUBLICANEWS, Jakarta - Penyidik Subdit Cyber Crime Direktorat Reskrimsus Polda Metro Jaya memanggil Felicita Susantio, konsumen properti di pulau reklamasi Teluk Jakarta. Ia diperiksa sebagai saksi dalam kasus laporan dugaan pencemaran nama baik.

"Yang melaporkan itu Ibu Lenny. Kita enggak tahu dan enggak kenal dan kita juga enggak tahu siapa terlapornya. Saya hanya dipanggil sebagai saksi," kata Felicita di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (17/1).

Dalam surat panggilan yang ditunjukkan kepada wartawan, Felicita dipanggil atas laporan Lenny yang bernomor LP/6076/XII/2017/PMJ/Dit. Reskrimsus tanggal 11 Desember 2017.

Felicita mengaku telah dipanggil oleh polisi sejak 4 Januari lalu. Namun karena sedang dalam suasana Natal dan Tahun Baru, ia baru bisa datang hari ini.

"Tapi tadi enggak jadi (diperiksa) karena ada pemeriksaan saksi lain sehingga pemeriksaan saya di-reschedule Senin (22/1) jam 11.00," ujar Felicita sambil menunjukan surat panggilan.

Surat kepada Felicita tercatat dengan nomor Spgl/5350/XII/2017/Dit.Reskrimsus yang diteken Kasudbdit Cyber AKBP Roberto Gomgom Pasaribu pada 29 Desember 2017.

Ia dipanggil untuk dimintai keterangan sebagai saksi dalam perkara tindak pidana fitnah dan pencemaran nama baik. Pasal yang disangkakan adalah Pasal 310 dan 311 KUHP.

Felicita menduga ia dipanggil karena video yang tersebar di media sosial saat konsumen pulau reklamasi mendatangi pengembang. Saat itu, ia bersama konsumen lainnya mengadakan pertemuan dengan pengembang PT Kapuk Naga Indah, anak perusahaan PT Agung Sedayu Group, di kantor marketing di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.

Dalam pertemuan pada 9 Desember 2017 itu, ujar Felicita, sempat terjadi keributan antara konsumen dengan pihak pengembang.

"Bahwa pertemuan tanggal 9 Desember itu terkait adanya berita ditariknya Raperda dari pembahasan di 2018, kami konsumen ingin menemui direksi," Felicita menjelaskan.

Halaman selanjutnya


  • 2

    +

    Sebetulnya, pada 8 Desember, konsumen sudah mendengar kabar pihak pengembang tidak bisa ditemui. Namun karena sudah terlanjur janji, mereka tetap datang ke kantor PT Kapuk Naga Indah. "Kita cuma meminta kepastian kapan mau ketemu," ujarnya.

    Para konsumen baru tahu kalau pengembang belum mendapatkan SIPPT (Surat Izin Penunjukan Penggunaan Tanah) untuk pembangunan properti di Pulau C dan D.

    Felicita membeli kavling seluas 370 meter persegi di Pulau D senilai sekitar Rp 5,2 miliar. Lahan tersebut sudah lunas ia bayar pada 2014. Dia juga membeli satu unit Ruko di Riverside Pulau C senilai Rp 8,5 miliar.

    Namun, karena adanya persoalan Raperda, hingga saat ini Felicita belum bisa menggunakan lahan miliknya.

    "Itulah makanya kita tanyakan. Jadi, wajar sekali saya rasa sebagai konsumen," ia menambahkan.

    Sementara itu, kuasa hukum Felicita, Kamillus Elu mengatakan, pihaknya sudah mengetahui bawah pengembang akan melaporkan konsumen yang memprotes. Hal itu pernah disampaikan dalam pertemuan 12 Desember 2017.

    "Pada saat itu pengembang mengumumkan bahwa mereka telah melaporkan pencemaran nama baik, mereka merasa dicemarkan karena adanya video yang tersebar. Video yang mana juga kita enggak tahu, karena tidak ada konsumen yang memvideokan," ujar Kamillus.

    Kliennya, kata Kamillus, berada di sana bersama konsumen lainnya. Sampai berita ini dimuat, Publicanews belum bisa menghubungi pihak pengembang. (m-03)


Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top